Cette publication est uniquement disponible à l'achat
Achetez pour : 1,49 €

Téléchargement

Format(s) : EPUB

avec DRM

Vous aimerez aussi

Le Livre de la Magie divine

de editions-prosveta

L’amour et la sexualité II

de editions-prosveta

La clef essentielle

de editions-prosveta

suivant

IV Mencintai Tanpa Ingin Memiliki

V Bagaimana Memperbaiki Perwujudan Cinta

VI Hanya Cinta Illahi - lah Yang Melindungi Cinta Manusia

VII Perilaku seksual dilihat dari sudut Ilmu Pembayat

VIII Mengenai Pengaruh Inti Matahari Kepada Energi Seksual

IX Masa Pembuahan Anak

X Masa Kehamilan

XI Anak-anak dari Intelek dan Hati Kita

XII Memberikan Kembali Tempat yang Sesungguhnya Pada Perempuan

XIII Kerajaan Tuhan, Anak dari Ibu Kosmik

Omraam Mikhael Aivanhov

Maskulin dan Feminin, dasar penciptaan

 

Koleksi Izvor – 214

 

Edisi asli

Judul: « Le Masculin et le Féminin, fondements de la création»

Penulis: Omraam Mikhaël Aïvanhov

ISBN 978-2-8184-0014-2

 

© Hak Cipta 2011 dicadangkan Prosveta Publishing SA untuk semua negara. Semua reproduksi, adaptasi, setiap pernyataan atau edisi tidak dapat dibuat tanpa izin dari penulis dan penerbit. Demikian pula, semua salinan pribadi semua audio-visual reproduksi atau dengan cara apapun sama sekali dapat dibuat tanpa izin dari penulis dan penerbit (Hukum 11 Maret 1957 direvisi).

Penerbit Prosveta S.A. – CS30012– 83601 Fréjus Cedex (France)

ISBN e book : 978-2-8184-0302-0

Omraam Mikhael Aivanhov

I
Laki- laki dan Perempuan,
Pancaran dari Dua Prinsip
Maskulin dan Feminin

Di seluruh alam semesta ada dua prinsip dasar yang terpancar di semua perwujudan alam dan kehidupan. Semua ciptaan adalah hasil karya dari dua prinsip maskulin dan feminin. Agar subur, kedua prinsip tersebut wajib bekerja bersama-sama; jika terpisah maka tidak produktif. Itulah sebabnya mengapa keduanya selalu mencari satu sama lainnya. Tidak ada yang paling penting bagi makhluk kecuali bertemunya prinsip tambahannya, bisa dikatakan bahwa sebagian besar masalah laki-laki dan perempuan yang merupakan salah satu wujud dari dua prinsip maskulin dan feminin di dunia, mempunyai pemahaman yang buruk dari masalah tersebut sebagai asas.

Disadari atau tidak, semua ciptaan mempunyai reaksi yang sama di depan masalah kedua prinsip tersebut: semuanya memberikan kemutlakan yang penting. Ketika laki- laki yakin telah menemukan prinsip tambahannya tersebut yang ia butuhkan dalam diri seorang perempuan, ia siap meninggalkan semua. Meski pun dia adalah seorang raja, mampu mengabaikan kerajaannya dengan masalah-masalahnya, senjata dan hartanya, hanya untuk seorang perempuan. Dan apa yang dimiliki perempuan tersebut untuk membuat pucat sebuah bangsa dengan jutaan masalah di matanya?... kenyataannya, bukan perempuan saja yang dicari, tapi prinsip tambahan, karena tidak ada apa-apa yang lebih penting. Dan perempuan pun melakukan hal yang sama: dia akan menentang semua keluarganya, dan pada seluruh dunia jika itu perlu, untuk mengikuti laki- laki yang dicintainya. Apa dia salah? Tidak sama sekali. Bapa Surgawi dan Ibu Pertiwi, yang telah mencatat hukum tersebut dalam hati manusia: “Anda akan meninggalkan ayah dan ibu Anda dan mengikuti istri atau suami Anda.” Di setiap dasar lubuk hati manusia tertulis bahwa ia harus mencari prinsip tambahannya. Tapi semua tidak selalu menyadarinya, karena pencarian tersebut memberikan bentuk-bentuk yang paling berbeda dan juga bidang-bidang yang mengikutinya: bisa jadi ada dalam ilmu pengetahuan, filosofi, seni, agama...

Mengapa seorang laki-laki jatuh cinta pada seorang perempuan dengan mengabaikan semua atau yang lainnya? Karena perempuan tersebut sesuai dengan sesuatu yang ada dalam dirinya sendiri, dan sesuatu tersebut, justru sisi lain dari dirinya. Manusia terobsesi oleh sesuatu, dan polarisasi tersebutlah yang mendorongnya untuk mencari bagian lain dari dirinya sendiri melalui seorang perempuan atau seorang laki-laki, bahkan melalui Tuhannya. Di luar penampakannya, selalu bagian lain dari dirinyalah yang sedang dicari.

Seorang mistikus berkata bahwa ia mencari Tuhan. Nyatanya, apa yang disebut dengan Tuhan hanyalah bagian tambahan yang dicarinya agar bersatu, bergabung agar menjadi entitas yang sempurna, perfek. Sampai disitu, dia merasa sebagai makhluk yang tidak sempurna, terpotong-potong. Semua makhluk hanya mencari prinsip tambahan yang disebut dalam Ilmu Pembayat “jiwa kembar”, agar menemukan suatu keadaan yang sempurna. Satu-satunya bentuk yang dicari adalah berbeda.

Setiap manusia memiliki jiwa kembar. Pada saat seorang manusia ke luar sebagai api, seperti percikan api dari kandungan Sang Pencipta, dari dua menjadi satu, dan kedua bagian tersebut saling melengkapi dengan sempurna; setiap bagian merupakan bagian yang sempurna dari yang lainnya. Ya, pada awalnya, manusia adalah laki- laki sekaligus perempuan, dan makhluk lengkap inilah yang kita sebut dengan androgin. Kemudian, sepanjang proses evolusi, kedua kutub positif dan negatif dari kesatuan tersebut terbagi-bagi; kemudian dihasilkan pemisahan jenis kelamin, dan setiap bagian adalah bagian dari sisinya untuk berevolusi secara terpisah. Jika kedua bagian tersebut dapat saling mengenal sepanjang proses evolusinya, itu karena setiap bagian membawa gambaran lainnya dalam lubuk hati dirinya; setiap gambarannya membubuhi cap pada yang lainnya. Semua manusia memiliki gambaran jiwa kembar dalam dirinya. Gambar tersebut sangat kabur tapi ada. Itulah sebabnya tiap orang yang datang di bumi dengan harapan yang suram bahwa ia akan bertemu dengan bagian hatinya yang akan memberi apa yang diinginkannya dan yang ada keselarasan antara dia dan jiwa kembarnya tersebut, sebuah gabungan yang tidak dapat dideskripsikan.

Anda tahu itu, karena Anda semua tidak akan pernah berhenti percaya bahwa Anda akan menemukan jiwa kembar yang sangat anda cintai setelah Anda tahu wajah jiwa kembar Anda itu. Anda membawa gambarannya dalam diri anda, tapi sangat terpendam amat dalam sehingga Anda tidak berhasil melihatnya dengan jelas. Seringkali Anda pada saat bertemu dengan seorang laki-laki atau perempuan berkata: “Saya sudah menemukannya!” seolah-olah dihasilkan tiba-tiba suatu perpaduan antara makhluk tersebut dengan gambaran yang Anda bawa dalam diri Anda sendiri. Hidup Anda telah berubah dan Anda melakukan semuanya untuk menemukannya. Setiap kali Anda bertemu dengan dia, ketika Anda berbicara dengannya, segalanya menjadi lebih indah, kehidupan beredar dalam diri Anda, Anda mengalami kemajuan di berbagai bidang. Tapi setelah masa keakraban, Anda berpikir bahwa individu tersebut bukanlah yang Anda tunggu-tunggu. Anda merasa kecewa, dan Anda meninggalkannya untuk mulai mencari lagi. Kedua kalinya Anda yakin menemukan jiwa kembar di individu yang lainnya, dan kesenangan yang sama, inspirasi yang sama muncul secara mendadak, Anda jatuh cinta lagi. Namun cerita yang sama berulang, sekali lagi Anda sadar bahwa bukan dia yang Anda cari. Tidak terkecuali, laki- laki dan perempuan sama saja. Tapi suatu hari, pertemuan kedua prinsip ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, karena kasih antara kedua prinsip lebih kuat dari segalanya.

Dua jiwa kembar adalah segala untuk yang lainnya, tidak ada satu pun individu lain di dunia yang dapat membawa mereka ke keadaan yang sama sempurnanya. Jadi, semua makhluk yang Anda temui sejak awal inkarnasi Anda yang beraneka ragam, suami- suami atau istri- istri yang pernah Anda miliki, laki-laki atau perempuan idaman lain, semua meninggalkan Anda karena mereka bukan untuk Anda. Mungkin Anda dulu bersama-sama sesaat, namun seperti wadah dengan tutup yang tidak cocok. Sedangkan dua jiwa yang telah Tuhan ciptakan sudah mutlak dijodohkan satu sama lainnya, tidak ada yang dapat memisahkan mereka dan mereka pun tidak punya sedikit pun perasaan gelisah. Ketika, dalam sebuah pasangan, satu sama lainnya mempunyai rasa ketakutan bahwa ada yang datang merayu pasangannya (sebenarnya tidak ada satu pun yang dapat menghalangi itu bakal terjadi!) berarti pasangan tersebut bukan jiwa kembar yang sebenarnya. Seorang perempuan mencintai seorang laki-laki, namun si laki-laki tersebut pergi dengan perempuan lain; seorang laki-laki mencintai seorang perempuam , tapi perempuan itu mengabaikannya... Sepasang jiwa kembar, sebaliknya, mengenali dirinya dengan sebuah kepastian yang mutlak dan tidak dapat lagi saling meninggalkan.

Manusia bertemu jiwa kembarnya dua belas kali sepanjang inkarnasi mereka di bumi. Tapi, yang paling sering terjadi, pertemuan tersebut menimbulkan kematian, karena kondisi kehidupan di bumi bertolak belakang dengan perwujudan sebuah kasih yang sempurna, absolut.

 

Sekarang, jangan memahami apa yang saya katakan dengan buruk: bukan berarti karena Anda datang untuk belajar bahwa suami atau istri Anda sebenarnya bukanlah jodoh Anda sehingga Anda merasa adil untuk meninggalkannya. Sebaliknya, pada saat itu seharusnya Anda berpikir bahwa Anda seperti dua patner yang mempunyai satu pekerjaan untuk dilakukan secara bersama-sama, dan saling memahami sampai maut memisahkan Anda kelak itu perlu.

Dari sudut pandang falsafah bisa dikatakan bahwa jiwa kembar kita, adalah diri kita sendiri, kutub lain diri kita sendiri. Jika kita berada di bawah, kutub lainnya di atas, dan ia berpadu dengan Langit, dengan Malaikat, dengan Tuhan dalam suatu kesempurnaan dan keadaan yang sempurna. Itulah sebabnya di semua paham Pembayat diajarkan pada pengikutnya bagaimana bersatu padu dengan kutub lain tersebut. Di India, Jnani-yoga memberikan beberapa metode dan berkat metode tersebut para yogi dapat berhasil menyatukan diri dengan Dirinya yang tertinggi, karena dengan bersatu dengan Dirinya yang tertinggi maka ia bersatu dengan Tuhan sendiri.1

Di Yunani, ada gagasan yang sama dikemukakan dalam bentuk tertulis di atas gapura kuil Delphes: “Kenalilah dirimu sendiri”. Tentu saja mengenali diri bukan berarti mengenali karakternya, baik atau buruk, dengan kemampuan atau kekurangan, bukan, itu terlalu mudah. Tertulis dalam Genesis : “Adam mengenal Hawa” atau “Hawa melahirkan Kain dam Abil ”. Pengenalan yang sesungguhnya merupakan suatu gabungan dari dua prinsip. “Kenalilah dirimu sendiri” berarti: menemukan kutub lain dalam dirimu dan kamu akan menjadi dewa. Jika Anda adalah laki-laki maka kutub lainnya adalah perempuan dan Anda mengenalnya seperti seorang jiwa kembar mencintai jiwa kembarnya; tidak dengan cara yang benar-benar sama, tentu saja, karena perpaduan tersebut, pengenalan ini tidak saling melengkapi dalam ranah fisik namun di daerah- daerah yang paling halus dari cahaya. Ketika Anda tenggelam dalam cahaya ini Anda menjadi Satu dengan diri Anda sendiri.

Persepsi yang sama yang diungkapkan sedikit berbeda ditemukan dalam Kitab Injil: “Kamu akan mencintai Tuhanmu sepenuh hatimu, segenap jiwa, pikiran dan kekuatanmu.2. Yang tanpa disebutkan bahwa bersatu denganNya dapat melalui ego tertingginya. Begitu pula yang ingin disampaikan Kristus ketika dia bicara: “Tak seorang pun yang bisa meraih Bapa kecuali melalui diriku.” Kristus adalah simbol Anak Tuhan yang ada dalam setiap nurani laksana percikan api yang terpendam. Dengan menjalin hubungan dengan nurani tertingginya manusia terjalin pada prinsip Kristus ini yang ada di mana-mana, dalam semua jiwa, dan melalui dia, maka manusia terikat dengan Tuhan. Anda hanya bisa meraih Tuhan melalui ego tertinggi Anda, karena ego itulah yang berisi segalanya dan yang menunjukkan apa yang terbaik dan yang tersuci dalam diri Anda. Itulah sebabnya semua doktrin spiritual mengajarkan bagaimana menjauhkan diri melalui pikiran dari dunia fisik, material, agar dapat meningkatkan diri sampai dunia Tuhan yang indah, jiwa tertinggi kita. Dan ketika selalu ada polarisasi, terciptalah suatu pertalian rasa, sebuah simpati, hubungan dengan prinsip tambahan, karena sifat maskulin selalu tertarik oleh sifat feminin, dan sebaliknya.

Setiap makhluk memiliki prinsip lain dalam dirinya, ia hanya bisa menemukan Tuhannya melalui prinsip lain. Itulah sebabnya mengapa perempuan menemukan Tuhannya melalui laki-laki, karena laki-laki mewakili prinsip lain dan bahwa prinsip tersebut menghubungkannya dengan Bapa Surgawi. Dan laki-laki hanya bisa menemukan sifat Tuhannya melalui prinsip feminin, entah itu seorang perempuan atau sifatnya sendiri (yaitu prinsip feminin) atau Ibu Illahi. Namun tanpa prinsip tersebut, tidak ada sedikit pun semangat, inspirasi, pekerjaan, sama sekali tidak ada. Dan tanpa kehadiran prinsip maskulin, prinsip feminin tetap tak berubah, apatis, steril. Ayo belajarlah bagaimana alam membuat kenyataan : Anda lihat bagaimana matahari, yang merupakan prinsip maskulin, menebarkan cahaya, kehangatan, dan semua terasa segar.

 

Setiap orang mencari jiwa kembarnya. Tapi ketahuilah bahwa termaktub dalam Ilmu Pembayat bahwa kita tidak bisa menemukan apa-apa dari sisi luarnya kalau belum menemukan sisi dalamnya, karena bahkan apa yang akan Anda temui dari sisi luarnya, jika Anda belum menemukan yang di dalamnya, maka Anda akan terus berjalan tanpa melihatnya. Semakin Anda menemukan inner beauty (keindahan dalam diri ), semakin Anda menemukan keindahan yang ada di luar dalam ranah fisik. Mungkin Anda berpikir jika Anda tidak melihatnya sebelumnya itu karena dia tidak ada di sana... Ya, dia ada di sana, tapi dia tetap tidak terlihat karena dalam diri Anda belum berkembang, tergugah. Tapi sekarang ketika Anda bisa melihat sisi dalamnya, Anda melihat pula sisi luarnya, karena dunia luar hanya terbentuk dari pancaran dunia dalam. Jangan pernah mencari apa-apa yang ada di luar jika Anda sebelumnya tidak berusaha menemukan apa yang ada di dalam. Ketika Anda melihatnya, menemukan sisi dalam jiwa kembar Anda dalam meditasi dan renungan Anda, maka Anda akan menemukannya di mana-mana, melalui wajah, danau, gunung, tumbuhan, burung-burung, dan Anda akan mendengarkan suaranya.

Itulah kebenaran yang penting diketahui bagi semua yang saling mencintai, jika tidak maka hubungan, pernikahan mereka akan menjadi sebuah bencana. Jika laki-laki telah menemukan dalam dirinya prinsip feminin, dan perempuan prinsip maskulin, jika mereka ingin melayaninya dan bekerja untuknya, dengan demikian, ketika mereka saling mencintai, menikah, maka cinta mereka akan menjadi sebuah sumber berkah. Itulah sebabnya perempuan harus melihat Bapa Surgawi melalui laki- laki yang dicintai, karena secara simbolis, laki-laki ini adalah utusan Tuhan di bumi. Dan dia harus melihat melalui jiwa kembarnya Ibu Illahi, dan mencintai Ibu Illahi, merenungkannya, melayaninya3. Pada saat itu, semua kekayaan akan terbuka di depan mereka dan mereka akan hidup sepanjang hari dalam kegembiraan, kesenangan dan keindahan. Jika tidak, maka mereka akan kecewa, menderita, mereka akan mulai membicarakan laki- laki dan perempuan dengan nada tidak suka. Sederhana saja mereka hanya mengenal satu sama lain bukan jiwa dan nuraninya tapi hanya compang –camping baju usang, penyakit- penyakitnya.... Inilah yang terjadi bagi siapa yang tidak ingin mengetahui kebenaran ini; mereka menghindari ilmu Pembayat, mereka tidak ingin mengembangkan diri, dan mereka pusing sendiri. Ketika seseorang menghindari cahaya yang dapat membuka matanya dan menerangi jalannya, dia sendirilah yang menghukum dirinya sendiri.

 

BIBLICAL REFERENCES

‘And Adam knew Eve’ – Gen. 4: 1

‘You shall love the Lord your God…’ – Matt. 22: 37-39

‘No one comes to the Father except through me’ – John 14: 7


1 See ‘Et il me montra un fleuve d’eau de la vie’, Part VI, chap. 3: ‘Le Moi supérieur. La descente du Saint-Esprit’

2 See ‘You Are Gods’, Part III, chap. 5: ‘You shall love the Lord your God’.

3 See The Seeds of Happiness, Izvor Coll. n° 231, chap. 20: ‘Fusion on the Higher Planes’.

II
Galvanoplastik spiritual

Apa yang terjalin di bumi akan terjalin pula di langit; dan apa yang terlepas di bumi maka akan terlepas pula di langit.” Berapa kali pemeluk agama Kristen membaca ayat kitab Injil ini tanpa menemukan makna dasarnya ! Bagaimana cara menjelaskan hubungan antara bumi dan langit ? Pada kenyataannya, langit dan bumi mewakili kedua prinsip maskulin dan feminin yang bekerja di bumi, kedua kutub positif dan negatif yang ditemui dalam fenomena-fenomena alam dan kehidupan. Di antara kedua kutub tersebut dihasilkan sebuah sirkulasi, pertukaran yang terus menerus, dan pertukaran yang selalu menimbulkan sebuah hubungan.

Dan di dalam ayat Injil kemudian Yesus berkata: “Jika di bumi dua di antara kalian sepakat untuk meminta apa yang diminta, maka mereka akan menerimanya dari Bapa-ku yang ada di langit. Karena di sana tempat dua atau tiga berkumpul dengan namaku, aku hadir ditengah-tengah mereka.

Semua ciptaan adalah hasil karya dari dua prinsip maskulin dan feminin yang merupakan pancaran, repetisi dari dua prinsip jagat raya terbesar yang disebut dengan Bapak Surgawi dan Ibu Illahi. Bapak Surgawi dan Ibu Pertiwi merupakan polarisasi dari prinsip yang tunggal, Absolut, Tak berujud, sehingga Kabbalah menyebutnya Ain Soph Aur: cahaya tiada akhir.1 Di mana-mana di alam Anda hanya akan melihat kedua prinsip dalam bentuk dan dimensi yang berbeda-beda. Anda akan melihat di bumi atau di bawah bumi, turun di dasar samudra atau naik di udara, yang Anda lihat hanyalah dua prinsip yang bekerja. Dan Anda akan lihat pula dalam diri manusia, tidak hanya dalam tubuhnya secara fisik tapi dalam psikisnya tempat semangat dan intelek menunjukkan prinsip maskulin, sedangkan batin dan hatinya adalah prinsip feminin. Hasil kerja intelek dan hati mengakibakan aksi. Semua tindakan kita merupakan hasil dari intelek dan hati kita, pikiran dari intelek kita dan perasaan dari hati kita. Ketika pikiran kita benar dan adil serta perasaan kita tidak ada pamrih, maka tindakan kita akan konstruktif.

Tindakan selalu merupakan anak dari kepandaian dan hati. Anda berkata Anda ditemui orang-orang yang sangat aktif, intelek dan hatinya tidak begitu berkembang... Memang ada orang seperti itu, tapi di diri mereka pula tindakan akan menjadi anak dari intelek dan hati... dari ketiadaan intelek dan hati mereka! Bertindak dengan cara berpikir dan penuh kasih sayang, atau bertindak dengan teledor atau tanpa perasaan sedikit pun, selalu akan melahirkan tindakan yang merupakan buah dari intelek dan hati. Sifat anak tergantung dari tingkat evolusi orangtuanya: tindakan-tindakannya pandai atau bodoh, baik atau jahat, diikuti keadaan dari intelek dan hati. Jadi selalu ada bapak dan ibu, artinya langit dan bumi.

Ambillah sebuah contoh Anda menanam benih. Pada saat itu Anda “menghubungkan sesuatu di tanah” karena banyaknya unsur-unsur tanah akan menuju pada perkembangannya. Tapi Anda menghubungkan juga sesuatu di langit. Sejak Anda menanam benih di tanah, dihasilkan hubungan antara bumi dan langit: hujan akan menyiraminya, matahari akan memberikan cahaya dan kehangatannya. Anda hanya menanam benih atau biji ke dalam tanah, namun melalui perilaku tersebut Anda telah membuka langit untuk datang berpartisipasi pada pertumbuhannya2. Ketika kita makan, apa yang kita lakukan? Kita memasukkan benih (makanan) ke dalam bumi (perut), dan dengan segera langit (otak) mengalirkan makanan yang telah kita serap agar berubah menjadi energi, perasaan, pikiran... Sejak kita menempatkan makanan ke dalam perut, semua titik organ kekuatan datang dan bekerja di dalam tubuh.

Menghubungkan, melepaskan... kedua kata tersebut merangkum aktivitas-aktivitas hati dan intelek. Hatilah yang menghubungkan sedangkan intelek yang melepaskan. Hati membuat sintesa, bersatu, mendekat, menciptakan hubungan dengan semua yang dicintainya, bahkan kadang-kadang hubungan yang bodoh !... Sebaliknya, intelek menganalisa, memisahkan dan menguraikan. Di masa sekarang, saat intelek ditempatkan di rangking pertama, intelek mengacaukan semua. Jadi sebaiknya memutuskan untuk menempatkan kembali hati pada tempatnya semula, karena hatilah yang menghidupkan, yang bergerak, yang menyatukan melalui kehangatan dan kelembutan. Anda tidak harus menyimpulkan perkataan saya bahwa seharusnya menghapuskan intelek. Tidak, intelek harus bekerja berhubungan dengan hati. Bagaimana caranya? Akan saya ceritakan pada Anda sebuah anekdot kecil.

Suatu hari ada seseorang yang mengantarkan dua orang lelaki di depan pengadilan, mereka dituduh telah mencuri buah apel lewat samping dinding kebun. Semua melihat mereka dengan terheran-heran karena yang satu kedua kakinya buntung, dan yang lainnya, buta. Tertuduh pertama bilang: “Bapak Hakim, Anda lihat saya tidak punya kaki, bagaimana bisa saya mengambil buah apel dari samping tembok?” dan yang kedua bilang: “Dan saya, Bapak Hakim, saya tidak punya mata, bahkan untuk melihat ada buah apel yang dicuri pun saya tidak bisa!” Pengadilan akan membebaskan mereka, karena terbujuk kepolosannya, ketika seorang hakim paling bijaksana berteriak: “Tentu saja, secara terpisah mereka tidak mampu mencuri buah apel tersbut. Tapi jika orang buntung itu diletakkan di atas bahu orang buta itu, nah jadilah mereka orang yang sempurna! Mereka mencuri buah apel bersama-sama.”